Islam Sebagai Agama Rahmatan Lil ‘Alamin

0
57

PEMBAHASAN

  1. Latar Belakang

Sejarah penyebaran Islam yang paling awal keluar dari Arab, Islam telah menjadi suatu agama dari berbagai suku, ras, dan kelompok masyarakat. Islam dimulai dengan penurunan wahyu kepada Nabi Muhammad saw pada 610 M ketika beliau berusia 40 tahun. Islam adalah suatu agama yang datang dari Allah Swt atau disebut dengan agama samawi. Demikian pada umumnya kita dapat menemukan Islam di sebagian besar tempat-tempat utama diantara masyarakat di dunia. Islam merupakan suatu agama yang disebarkan dan pemeluknya disebut dengan muslim. Oleh karenanya, sebagai seorang muslim sudah  sepatutnya selalu mensyiarkan Islam kepada semua orang di muka bumi ini dan untuk menjadikan kondisi alam semesta menjadi lebih baik.

Islam adalah “The Way Of Life” atau jalan hidup yang benar, jalan yang membawa keselamatan dunia dan akhirat. Islam memiliki ciri-ciri Rabbaniyah yaitu bahwa Islam bersumber dari Allah Swt bukan hasil penciptaan manusia. Islam merupakan suatu kesatuan yang padu yang mencakup seluruh aspek kehidupan, tak satu aspekpun terlepas dari Islam karena ajarannya yang bersifat integral dan Islam tidak terbatas dalam waktu tertentu tetapi berlaku untuk sepanjang masa dan di semua tempat.

Dalam Islam, ditemui kaidah-kaidah umum yang mudah dipahami, sederhana dan mudah dipraktikan yang menjadi kemaslahatan umat manuusia, karena sumber ajaran Islam adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits serta ijtihad sehingga Islam menjadi agama Rahmatan lil ‘Alamin.

 

  1. Pengertian Agama Islam

Dalam masyarakat Indonesia selain dari kata agama, dikenal pula kata ad-din dari bahasa Arab dan kata religi dari bahasa Eropa. Agama berasal dari kata Sanskrit. Satu pendapat mengatakan bahwa kata itu tersusun dari dua kata, a=tidak dan gam=pergi, jadi tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi turun temurun. Agama memang mempunyai sifat yang demikian. Ada lagi pendapat yang mengatakan bahwa agama berarti teks atau kitab suci. Dan agama-agama memang mempunyai kitab-kitab suci. Selanjutnya dikatakan lagi bahwa gam berarti tuntunan. Memang agama mengandung ajaran-ajaran yang menjadi tuntunan hidup bagi penganutnya.[1]

Ada dua sisi yang dapat kita gunakan untuk memahami pengertian agama Islam, yaitu dari sisi etimologi dan dari sisi terminologi. Kedua sisi pengertian tentang Islam ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Islam berasal dari bahasa arab, yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian.

Dalam khazanah bahasa Indonesia , kata berislam yang merupakan terjemahan dari kata aslamaterdengar asing ketimbang kata beriman, terjemahan dari kata amana, padahal keduanya banyak ditemukan dalam Al-Qur’an. Kata aslama atau berislam mengandung makna sikap berserah diri pada Tuhan sang Pencipta dan Pemelihara alam semesta. Karena sebuah sikap, pilihan seseorang untuk berislam itu pada urutannya merupakan sesuatu yang immanent, sebuah pilihan hidup yang menyatu dengan kepribadian, bukan sebuah ideologi atau ajaran yang berada di luar diri.[2]

Makna ajarannya yang membawa pada keselamatan itu terlihat dari karakteristik ajarannya antara lain: sesuai dengan fitrah dan kebutuhan, ajarannya sempurna (QS. Al-Maidah:3), kebenarannya mutlak (QS. Al-Baqarah:147), mengajarkan keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan (QS. Al-Qashas:286), berlaku secara universal (QS. Al-Ahzab:40), serta menciptakan rahmat bagi seluruh alam yang dinyatakan dalam QS. Al-Anbiya ayat 107:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah kami mengutus kamu melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”( QS. Al-Anbiya:107)

Dalam memahami islam dan ajarannya, berbagai aspek yang berkenaan dengan islam perlu dikaji secara seksama sehingga dapat dihasilkan pemahaman yang komprehensif. Hal ini penting dilakukan karena kualitas pemahaman keislaman seseorang dapat mempengaruhi pola pikir, sikap dan perilaku dalam menghadapi berbagai permasalahan yang berkaitan dengan islam .

  1. Pengertian Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamin

Islam adalah agama rahmatan lil alamin artinya islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta termasuk hewan, tumbuhan dan lainnya apalagi sesama manusia. Pernyataan bahwa islam adalah agama rahmatan lil alami sebenarnya adalah kesimpulan dari firman Allah:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah kami mengutus kamu melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya ayat 107)

Islam melarang manusia berlaku semena-mena terhadap makhluk Allah, sebagaimana Rasulullah telah bersabda yang terdapat dalam hadis riwayat al-Imam al- Hakim yang artinya:

“Siapa yang dengan sewenang-wenang membunuh burung atau hewan lainnya yang lebih kecil darinya, maka Allah akan meminta pertanggungjawaban kepadanya”.

Sungguh begitu indahnya islam,  dengan binatang saja tidak boleh sewenang-wenang apalagi dengan manusia. Bayangkan jika manusia memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran islam, maka akan sungguh indah dan damainya dunia ini. Nabi Muhammad SAW diutus dengan membawa ajaran Islam, maka islam adalah rahmatan lil alamin, rahmat artinya kelembutan yang berpadu dengan rasa iba. Atau dengan kata lain rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang.

Yang menjadi tantangan besar umat Islam masa kini adalah Islam belum lagi terwujud risalahnya, ia belum lagi menjadi rahmat bagi manusia. Karenanya kita harus mengadakan koreksi total terhadap cara-cara hidup kita, baik dalam bidang ubudiyah maupun dalam bidang muamalah[3]

Penafsiran para ahli tafsir tentang Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamain:

  1. Muhammad bin Jarir Ath-Thabari dalam tafsir Ath-Thabari

“Para ahli tafsir berpendapat tentang makna ayat ini, tentang apakah seluruh manusia yang dimaksud dalam ayat ini, adalah seluruh manusia baik mukmin dan kafir?Apakah hanya seorang mukmin saja?. Sebagian ahli tafsir berpendapat, yang dimaksud adalah seluruh manusia baik mukmin maupun kafir. Mereka mendasarinya dengan riwayat dari Ibnu Abbas RA dalam menafsirkan ayat ini:

“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir ditetapkan baginya rahmat di dunia dan akhirat. Namun siapa saja yang tidak beriman kepada Allah dan Rasulnya, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu seperti mereka semua ditenggelamkan atau diterpa gelombang besar”.

Pendapat ini benar. “Yaitu Allah mengutus nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam baik mukmin maupun kafir. Rahmat bagi orang mukmin yaitu Allah memberinya petunjuk dengan sebab diutusnya Rasulullah Saw. Beliau Saw.  memasukkan orang-orang beriman kedalam surga dengan iman dan amal mereka terhadap ajaran Allah Swt. Sedangkan rahmat bagi orang kafir, berupa tidak disegerakannya bencana yang menimpa umat-umat terdahulu yang mengingkari ajaran Allah” (Diterjemahkan secara ringkas)

  1. Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi dalam tafsir Al-Qurthubi

Said bin Jubair berkata: dan Ibnu Abbas, beliau berkata:

“Muhammad Saw adalah rahmat bagi seluruh manusia. Bagi yang beriman dan mmbenarkan ajaran beliau akan mendapat kebahagiaan. Bagi yang tidak beriman kepada beliau diselamatkan dari bencana yang menimpa umat terdahulu berupa ditenggelamkan kedalam bumi atau ditenggelamkan ke dalam air”

Ibnu Zaid berkata:

“Yang dimaksud “seluruh manusia” dalam ayat ini adalah orang-orang yang beriman”

  1. Ali-Shabuni dalam Safwatut Tafasir

“Makna ayat ini adalah “tidaklah kami mengutusmu wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh makhluk”. Sebagaimana dalam sebuah hadits:

Artinya: “Sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan (oleh Allah)”

Orang yang menerima rahmat ini dan bersyukur atas nikmat ini, ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Allah swt. Tidak mengatakan rahmatan lilmu’minin, namun mengatakan rahmatan lil’alamin karna Allah ta’ ala ingin memberikan rahmat bagi seluruh makhluknya dengan diutusnya pemimpin para nabi. Muhmmad saw. Beliau diutus dengan membawa kebahagiaan yang besar. Beliau juga menyelamatkan manusia dari kesengsaraan yang besar. Beliau menjadi sebab terciptanya berbagai kebaikan di dunia dan akhirat. Beliau memberi pencerahan dari kejahilan. Beliau memberikan hidayah kepada manusia yang sebelumnya berada dalam kesesatan. Inilah yang disebuat sebagai rahmat bagi seluruh manusia. Bahkan orang-orang  kafir mendapat manfaat dari rahmat ini, yaitu ditundanya hukuman bagi mereka. Selain itu mereka pun tidak di kenakan azab berupa diubah menjadi binatang atau dibenamkan kebumi atau ditenggelamkan dengan air.

 

Sebagaimana yang telah disebutkan diatas bahwa Islam Rahmatan Lilalamin adalah agama yang memberikan rahmat bagi seluruh alam.

Dengan diturunkannya Q.S. Al-Anfal : 33

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.”( Q.S. Al-Anfal : 33)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah tidak akan memberikan azab di dunia bagi ummat nabi Muhammad saw., melainkan ditunggu datangnya hari kiamat. Dan hal tersebut merupakan bentuk rahmat didunia bagi umat Nabi Muhammad saw. Berbeda dengan umat-umat  nabi terdahulu, bila ada yang kafir atau maksiat, maka atas perintah Allah langsung diturunkan azab.

Jelaslah bahwa islam adalah Agama rahmatan Lilalamin dan tidak ada pembedaan antara muslim dan non muslim atas rahmat dunia. Karna rahmat dalam konteks ‘rahma’ adalah bersifat ammah kulla syai’ meliputi segala hal, sehingga orang-orang non muslim pun mendapatkan kerahman-an di dunia. Islam merupakan agama yang pluralis, karna islam mengakui keberadaan bangsa, lapisan masyarakat, dan islam juga mengakui semua agama. Dengan adanya kesadaran untuk menghargai adanya pluralisme merupakan bukti bahwa islam membawa rahmat bagi seluruh alam.

  1. Perilaku Manusia Sebelum Adanya Islam

Islam merupakan agama yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Keadaan bumi sebelum masuknya islam merupakan keadaan yang amat buruk dan mengenaskan, diamana sebagian dari manusia ada yang menyembah pohon, batu, patung ( berhala), matahari, bulan dan bintang, bahkan ada yang menyembah sesama manusia yang mana kesemuanya itu adalah ciptaan Allah swt. Manusia yang hidup dimasa itu tidak lagi mempunyai rasa keadilan dan kemanusiaan. Yang kuat akan semakin berdiri tegak dan ditakuti, sedang yang lemah akan semakin tertindas. ‘’ the rich richer and the poor poorer’.

Kebiasaan- kebiasaan manusia pada saat itu tidak  lagi mencerminkan manusia yang mempunyai akal  seperti yang telah diberikan Allah swt. Untuk berfikir dan merenungkan karunia dan nikmat Allah swt. Melainkan akal mereka telah ditundukkan oleh hawa nafsu. Kedzaliman telah terjadi dimana-mana. Bahkan mereka tega untuk mengubur hidup-hidup anak perempuan yang baru saja dilahirkan oleh ibunya. Karna mereka menganggap bahwa anak perempuan itu aib bagi mereka.

  1. Sejarah Perkembangan Islam

Hadirnya islam membawa pengaruh besar dalam kehidupan manusia. Terutama dalam bidang ilmu pengetahuan. Beberapa tahun penyebaran agama islam di Arab, menjadikan peradaban dan universitas berkembang dengan pesat sehingga timbulnya pemikiran yang baru dengan yang lama menghasilkan kemajuan dalam medis, matematika, fisika, astronomi, geografi, sastra, dan lain-lain. Banyak sistem yang krusial seperti ilmu pengetahuan tentang : al-jabar, angka arab dan konsep angka nol (0) ( bilangan yang sangat diperdulikan dalam ilmu eksakta ) yang disebarkan ke eropa pada abad pertengahan yang berasal dari dunia islam. Itulah mengapa islam disebut sebagai agama rahmatan lilalamin karna islam hadir kedunia membawa karunia yang amat berarti bagi manusia, bukan saja bagi ummat muslim tapi seluruh ciptaan Allah swt.. dijagat raya termasuk non muslim. Baik muslim maupun non muslim jika mereka melakukan hal-hal yang diperlukan kerahmatan, maka mereka akan mendapatkan hasilnya. Kendati mereka muslim tetapi mereka tidak melakukan ikhtiar kerahmatan ,itu berlaku hukum kompetitif. Misalnya, orang islam tidak melakukan kegiatan belajar maka tidak bisa dan tidak akan menjadi pintar. Sementara orang yang melakukan ikhtiar kerahmatan meski dia non muslim mereka akan mendapatkan pengetahuan.

  1. Islam Untuk Seluruh Manusia ( Islam Rahmatan Lil Alamin )

Kata islam mempunyai dua makna. Pertama, nash ( teks ) wahyu yang menjelaskan Din ( agama ). Kedua, islam merujuk kepada amal manusia, yaitu keimanan dan ketundukan manusia kepada nash ( teks ) wakhu yang berisi ajaran din ( agama ) Allah swt. Berdasarkan makna pertama, islam yang dibawa satu rasul berbeda dengan rasul yang lain, dalam hal keluasan dan keuniversalannya. Islam yang dibawa nabi Muhammadd saw. Lebih luas lagi dari pada yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya. Apalagi nabi-nabi sebelumnya diutus hanya untuk kamunya sendiri. Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia.  Oleh karna itu islam yang dibawanya lebih luas dan menyeluruh. Tak heran jika Al-Qur’an bisa menjelaskan dan menunjukan tentang segala sesuatu kepada manusia. Allah swt. Berfirman:

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (Q`S An-Nahl :89)

  1. Konsep Rahmatan Lil Alamin

Agama islam adalah agama rahmatan lil alamin namun banyak orang yang salah kaprah dalam menafsirkannya. Sehingga banyak mengalami kesalahan dalam praktik beragama bahkan dalam hal yang fundamental yaitu aqidah. Pernyataan bahwa islam dalah agama yang rahmatan lil alamin sebenarnya dalah kesimpulan dari Firman Allah swt. “kami tidak mengutus engkau ( wahai Muhammad ) melaikan sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta “. Tugas nabi Muhammad adalah mebawa rahmat bagi sekalian alam, maka itu pulalah risalah agama yang dibawanya. Tegasnya, risalah islam ialah medatangkan rahmat bagi seluruh alam. Lawan dari pada rahmat ialah bencana dan malapetaka. Maka jika dirumuskan dalam bentuk kalimat yang menggunakan kata peniadaan, kita lalu mendapat penegrtian baru tetapi lebih tegas bahwa islam itu “bukan bencana alam”.

Dengan demikin kehadiran islam dialam dunia ini bukan untuk bencana dan malapetaka, tetapi untuk keselamatan, untuk kesejahtraan dan untuk kebahagiaan manusia lahir dan batin, baik secara perseorangan maupun secara bersama- sama dalam masyarakat. Islam itu ibarat ratu adil yang menjadi tumpuan harapan manusia. Ia harus mengangkat manusia dari kehinaan menjadi mulia, menunjuki manusia yang tersesat jalan. Membebaskan manusia dari segala macam kedzaliman, melepaskan manusia dari rantai perbudakan, memerdekan manusia dari kemiskinan rohani dan materi, dan sebaginya. Tugas islam memberikan dunia hari depan yang cerah dan penuh rahmat. Manusia akhirnya merasakan nikmat dan bahagia  karna islam. Kebenaran risalah islam sebagai rahmat bagi manusia, terletak pada kesempurnaan itu sendiri. Islam adalah dalam satu kesatuan ajaran, ajaran yang satu dan yang lainnya mempunyai  nisbat dan hubungan yang saling berkaitan. Maka islam dapat kita lihat serempak dalam 3 segi yaitu, aqidah, syariah dan nizam.

Umat islam dilarang menjadi umat pengekor, tetapi sebagai pengendali. Tidak pula boleh menjadi gerobag yang ditarik kemana-mana, tetapi menjadi lokomotif yang menarik  dan bertenaga besar. Islam tidak condong kebarat dan tidak pula miring ke timur, tetapi islam hadir ketengah-tenagh benua , ras bangsa untuk berkiblat kepadanya. Islam lah yang harus memimpin jalannya sejarah menuju kepada hidup dan kehidupan yang bahagia ( hayatun toyyibatun ) dalam rangka masyarakat yang sejahtera dan bahagia dibawah naungan ampunan Allah swt. ( baldatun toyyibatun warabbaun ghafur ) betapa tinggi fungsi umat islam ditengah-tengah kancah kehidupan manusia. Allah berfirman  dalam surah Ali-Imran ayat 110

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ …

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…”(Q.S. Ali-Imran:110)

  1. Pandangan Islam Atas Berbagai Ras dan Agama

Untuk lebih memahami perbedaan, kita perlu melihat agama dengan seperangkat ajarannya, di satu sisi, dengan para penganut yang mengamalkan ajaran agamanya.

Dari aspek keberagaman dan perbedaan ini, persoalan hubungan antar umat beragama agaknya senantiasa menjadi tema yang menarik. Hal ini setidaknya dikarenakan dua hal.

Pertama, agama dianggap sesuatu yang vital dan berhubungan dengan sesuatu yang diyakini kebenarannya secara final, sementara dalam realitasnya, tidak hanya ada satu agama yang dipercaya manusia, tetapi banyak (fenomena pluralisme agama).

            Kedua, pola hubungan antaragama sering memunculkan konflik dan ketegangan, baik dalam dimensi teologis-doktrinal maupun dalam wilayah politik dan sosial.

            Dengan kenyataan itu, pluralisme dapat muncul pada masyarakat dimana pun ia berada. Ia selalu mengikuti perkembangan masyarakat yang semakin cerdas dan tidak ingin dibatasi oleh sekat-sekat sektarianisme. Pluralisme harus dimaknai sebagai konsekuensi logis dari keadilan Ilahi—bahwa keyakinan seseorang tidak dapat diklaim benar-salah tanpa mengetahui dan memahami terlebih dahulu latar belakang pembentukannya, seperti lingkungan sosial budaya, referensi, atau informasi yang diterima, tingkat hubungan komunikasi, dan klaim-klaim kebenaran yang dibawa olehkendaraan ekonomi-politik kemudian direkayasa sedemikian rupa demi kepentingan sesaat, tidak akan diterima oleh seluruh komunitas manusia mana pun.[4]

Dalam agama islam memandang  agama- agama lain dan berbagai ras manapun mempunyai konsep yang baik. Islam sebagai konstitusinya, juga mewajibkan perdamaian antar manusia. Ia menyatakan mengapa manusia dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku tiada lain untuk memudahkan saling berkenalan dan saling berdekatan antara sesama manusia, bukan menjadikan jalan agar sebagian manusia itu lebih tinggi dari yang lainnya, dan agar sebagian manusia itu dapat menjadikan dirinya Tuhan. Orang mukmin mencintai segenap manusia, karena mereka adalah saudaranya, sama-sama keturunan Adam dan teman karibnya dalam             mengabdikan diri kepada Allah. Antara dia dengan mereka diikat oleh pertalian darah, tujuannya sama dan musuhnya pun sama.

Allah SWT menegaskan dalam quran surat An-Nisa ayat:1:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”(Q.S. An-Nisa:1)

Akidah Islam tidak membenarkan perbedaan darah dan perbedaan suku, ras, bangsa dijadikan alasan untuk saling berpecah belah. Seorang muslim mempercayai, bahwa seluruh umat manusia adalah keturunan Adam. Dan Adam diciptakan dari tanah. Perbedaan suku, bangsa, dan warna kulit, adalah bagian dari tanda-tanda kekuasaan dan kebijaksanaan Allah, dalam menciptakan dan mengatur makhluk-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran surat Ar-Rum ayat 22:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”(Q.S. Ar-Rum:22)

Bagaimana mungkin seorang muslim  akan merendahkan suatu bangsa dari bangsa-bangsa manusia, sedangkan al-Qur’an mengajarkan supaya menghormati segenap makhluk, baik bangsa, manusia, binatang ataupun yang lainnya. “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan (umat-umat) juga seperti kalian. Tiadalah kami alpakan sesuatu pun di dalam al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpun.”

Demikianlah pandangan orang mukmin terhadap umat manusia. Tiada perasaan kebanggaan tentang nasab, tempat kelahiran, tidak ada perasaan dengki antara kelompok satu dengan yang lain, antara individu satu dengan yang lain. Yang ada hanyalah perasaan cinta kasih, persamaan dan persaudaraan.

  1. Pengaruh Rahmatan Lil’alamin Bagi Non Muslim

Dalam memperlakukan non muslim (Ahli Dzimmah) mereka mendapatkan hak seperti yang didapatkan oleh kaum Muslimin, kecuali pada perkara-perkara yang terbatas dan perkecualian. Sebagaimana halnya juga mereka dikenakan kewajiban seperti yang dikenakan terhadap kaum Muslimin. Kecuali pada apa-apa yang diperkecualikan. Ialah hak memperoleh perlindungan yaitu melindungi mereka dari segala permusuhan eksternal. Ijma’ ulama umat Islam terjadi dalam hal ini seperti  yang diriwayatkan Abu Daud dan Al-Baihaqi “Siapa-siapa yang menzhalimi kafir mu’ahad atau mengurangi haknya, atau membebaninya di luar kesanggupannya, atau mengambil sesuatu daripadanya tanpa kerelaan, maka akulah yang menjadi seterunya pada hari kiamat (HR. Abu Daud dan Al-Baihaqi). Kemudian melindungi darah dan badan mereka, melindungi harta mereka, menjaga kehormatan mereka, memberikan jaminan sosial ketika dalam keadaan lemah, kebebasan beragama, kebebasan bekerja, berusaha dan menjadi pejabat, inilah beberapa contoh dan saksi-saksi yang dicatat sejarah mengenai sikap kaum Muslimin dan pengaruhnya terhadap Ahli Dzimmah.

  1. Islam Bukan Agama Teroris

Islam memang agama yang menyebarkan benih-benih kasih sayang, cinta dan damai. Islam secara eksklusif bukan berarti terorisme, tetapi eksklusif dalam pengertian akidah. Yaitu mempercayai dan meyakini bahwa Islam adalah agama yang benar. Dan itu harga mati di dalam akidah setiap Muslim. Dan bukan berarti terorisme. Nah, secara inklusifnya Islam sendiri mewajibkan umatnya untuk bertoleran sesama manusia.

Sejumlah ayat dalam Al-Qur’an mendorong kita untuk mengorbankan harta dan jiwa di jalan Allah Swt. Mengorbankan harta dan jiwa tidak harus selalu dengan berperang mengangkat senjata, Banyak perintah, baik secara eksplisit maupun implisit, dalam Al-Qur’an bertujuan menata kehidupan pribadi kita dan kehidupan keluarga dalam tatanan Islam serta menjamin terwujudnya kehidupan islami dalam masyarakat dan berkembangnya iklim islami dalam negara.[5]

Yusuf Qardhawi menyatakan bahwasanya tujuan Islam adalah membangun manusia yang shalih. Tidak mungkin Islam menyebarkan benih-benih terorisme. Dan bila “jihad” dalam pengertian islam adalah menyeru kepada agama yang benar , berusaha semaksimal mungkin baik dengan perkataan ataupun perbuatan dalam berbagai lapangan kehidupan dimana agama yang benar ini diperjuangkan dan dengannya ia memperoleh kemenangan, maka ia tentunya lebih luas ketimbang “perang” bahkan terorisme.

[1] Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya Jilid I, UI Press, Jakarta, 1985, hlm. 1

[2] Komaruddin Hidayat, Psikologi Beragama, Hikmah, Jakarta, 2010, hlm. 109.

[3] Drs. Nasruddin Razak, Dienul Islam, Al-Ma’arif, Bandung, 1986, hlm. 84.

[4] Drs. Adeng Muchtar Ghazali, M.Ag, Ilmu Studi Agama, Pustaka Setia, Bandung, 2005, hlm. 21.

[5] Muhammad Fethullah Gulen, Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, Republika, Jakarta, 2011, hlm. 393

LEAVE A REPLY