ilmuan memecahkan misteri batu meluncur

0
156

Peneliti akhirnya mampu menguak misteri batu berjalan atau batu bergerak yang ada di danau kering Racetrack Playa, Taman Nasional Death Valley, California.
Batu bergerak di danau dengan ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut itu memang telah bertahun-tahun mengundang tanya peneliti maupun ilmuwan. Batu-batu dolomit hitam itu muncul bergerak secara mandiri dengan meninggalkan jejak, seperti terseret, di permukaan danau. Dan tak seorang pun yang dikabarkan menyaksikan batu itu berjalan.
Pola jejak juga misterius. Terdapat jejak batuan zig-zag tajam dan ada yang meregang dua kali panjang lapangan sepakbola.
Mengenai penjelasan batu bergerak ini, mengutip Live Science, Kamis 28 Agustus 2014, beberapa peneliti telah berspekulasi mulai dari faktor medan magnet Bumi, angin kencang di sekitar danau hingga akibat dorongan ganggang licin. Namun, semua spekulasi itu kurang kuat.
Tapi, akhirnya misteri itu kini mulai terkuak. Ketiga peneliti, yaitu Richard dan Jim Norris, peneliti dari California dan Ralph Lorenz, ilmuwan planet di Laboratorium Fisika Terapan, Universitas John Hopkins, Baltimore, Amerika Serikat, bersyukur berkat bantuan rekaman video, foto time-lapse, pelacakan GPS batu bergerak, misteri dapat terpecahkan.
Peneliti menegaskan, kombinasi air dan es lah yang membantu batu bergerak. Lapisan es tebal pada musim dingin yang retak memicu batu bergerak dan menciptakan jejak berlumpur.
Tapi, danau itu pada dasarnya kering dan peneliti sempat menemukan hal yang aneh. Lapisan es yang membentuk panel, terlalu tipis. Dengan demikian, sangat susah untuk menggerakkan batu besar. Peneliti hanya melihat lapisan es yang tipis itu hanya bisa menggerakkan batu kerikil.
Untuk diketahui, dalam danau kering itu terdapat ratusan batu beragam ukuran. Beberapa sekecil bola, tapi batu berat lainnya ada yang berbobot 317 kg. Batu besar ditemukan memiliki alur jejak panjang.
Selain butuh lapisan es untuk mengambang, peneliti mengatakan danau juga butuh permukaan air yang dalam untuk menggerakkan batuan. Tapi yang terjadi, danau cukup dangkal.
Batu berjalan di Danau Racetrack Playa
Batu berjalan di Racetrack Playa, California (www.livescience.com)

Diteliti Sejak 1940-an

Upaya memecahkan misteri batu berjalan di danau itu sebenarnya sudah dilakukan sejak 1940-an dan tak pernah berhenti sampai saat ini.
Beberapa tahun lalu, Norris tertantang untuk mendalami misteri itu. Richard Norris merupakan ahli biologi, sedangkan Jim Norris adalah insinyur.
Pada musim dingin 2011, keduanya sempat mendatangkan 15 batu untuk dilacak dengan GPS. Keduanya juga memasang stasiun cuaca melacak embusan angin di sekitar danau.
Keduanya menunggu batu bergerak. Tapi, hasilnya nihil. Batu tak bergerak, juga tak pernah ada air.
Dua tahun kemudian, pada November 2013, Norris bersaudara mendapat sambutan dari Ralph Lorenz.
Lorenz diketahui telah menyelidiki batu berjalan sejak 2006, saat mendatangi kawasan Death Valley. Tapi, saat itu, ia fokus mempelajari debu setan sebagai analog untuk kondisi di Mars. Lorenz mengaku ia kagum dengan fenomena yang ada di Racetrack Playa.
Selanjutnya, setelah berdiskusi, Lorenz bersama Norris sepakat meneliti batu berjalan itu.

Berjalan 60 Meter

Akhirnya, kondisi yang ideal, yaitu adanya panel lapisan es yang tebal dan kondisi air yang cukup dalam bisa terwujud.
Itu terjadi pada serangkaian badai musim dingin dari Desember 2013 hingga Februari 2014. Pada rentang waktu itu, ratusan batu itu bergerak lima kali dalam 10 pekan.
“Pada dasarnya, batu-batu bergerak selama sekitar satu menit dalam juta menit. Anda harus berada di sana pada waktu yang tepat,” ujar Lorenz, salah satu penulis studi.
Pada Desember 2013, peneliti merekam baru bergerak dengan kamera. Saat itu, danau begitu licin dengan air sedalam 7 cm. Sementara itu, semalam sebelumnya, danau membeku diikuti esok harinya es meretak.
Beberapa batu bergerak bersama, meski mereka terpisah dalam ratusan kaki. Sementara itu, batu lainnya merembet. Disebutkan batu bergerak bersama hanya beberapa inchi per detik atau sekitar 2-6 meter per menit.
Bergeraknya batuan itu juga didorong oleh kecepatan angin yang tercatat mencapai 16 km per jam. Dalam 16 menit, peneliti mencatat batuan bergerak lebih dari 60 meter.
Peneliti mengaku puas telah menguak misteri itu dan berharap akan ada pelajaran dari temuan itu.
“Saya tahu ada orang yang suka misteri itu dan mungkin akan sedikit kecewa bahwa kami sudah memecahkan. Ini adalah proses yang menarik, dan dalam banyak hal saya berharap ada lebih yang ditemukan,” kata Richard Norris. (art)

LEAVE A REPLY