Bagaimana Hukum Qurban Secara Kolektif?

0
238

 

Sebagaimana ketentuan di atas, satu kambing hanya boleh untuk satu orang (dan boleh diniatkan untuk anggota keluarga), satu sapi untuk tujuh orang (termasuk anggota keluarganya), dan satu unta untuk sepuluh orang (termasuk anggota keluarganya), lalu bagaimana jika 1 kambing dijadikan qurban untuk 10 orang atau untuk satu sekolahan (yang memiliki murid ratusan orang) atau satu desa? Ada yang melakukan seperti ini dengan alasan dana yang begitu terbatas.

Sebagai jawabannya, alangkah baiknya kita perhatikan fatwa ulama yang terhimpun dalam Al Lajnah Ad Da-imah (komisi fatwa di Saudi Arabia) mengenai hal ini.

Soal kedua dari Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ’Ilmiyyah wal Ifta’ no. 3055

Soal: Ada seorang ayah yang meninggal dunia. Kemudian anaknya tersebut ingin berqurban untuk ayahnya. Namun ada yang menyarankan padanya, ”Engkau tidak boleh menyembelih unta untuk qurban satu orang. Sebaiknya yang disembelih adalah satu ekor kambing. Karena unta lebih utama dari kambing. Jadi yang mengatakan ”Sembelihlah unta”, itu keliru”. Karena apabila ingin berkurban dengan unta, maka harus dengan patungan bareng-bareng.

Jawab:

Boleh berkurban atas nama orang yang meninggal dunia, baik dengan satu kambing atau satu unta. Adapun orang yang mengatakan bahwa unta hanya boleh disembelih dengan patungan bareng-bareng, maka perkataan dia yang sebenarnya keliru. Akan tetapi, kambing tidak sah kecuali untuk satu orang dan shohibul qurban (orang yang berqurban) boleh meniatkan pahala qurban kambing tadi untuk anggota keluarganya. Adapun unta boleh untuk satu atau tujuh orang dengan bareng-bareng berqurban. Tujuh orang tadi nantinya boleh patungan dalam qurban satu unta. Sedangkan sapi, kasusnya sama dengan unta.

Hanya Allah yang memberi taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Yang menandatangai fatwa ini:

Anggota: ’Abdullah bin Qu’ud, ’Abdullah bin Ghodyan

Ketua: ’Abdul ’Aziz bin ’Abdillah bin Baz[8]

Dari penjelasan ini, maka kita bisa ambil beberapa pelajaran:

Seorang pelaku qurban dengan seekor kambing boleh mengatasnamakan qurbannya atas dirinya dan keluarganya.Qurban dengan sapi atau unta boleh dipikul oleh tujuh orang.Yang dimaksud kambing untuk satu orang, sapi dan unta untuk tujuh orang adalah dalam masalah orang yang menanggung pembiayaannya.Tidak sah berqurban dengan seekor kambing secara kolektif/urunan lebih dari satu orang lalu diniatkan atas nama jama’ah, sekolah, RT atau desa. Kambing yang disembelih dengan cara seperti ini merupakan daging kambing biasa dan bukan daging qurban.

Solusi dalam Iuran Qurban

Solusi yang bisa kami tawarkan untuk masalah iuran hewan qurban secara patungan adalah dengan acara arisan qurban. Jadi setiap tahun beberapa orang bisa bergantian untuk berqurban. Di antara alasan dibolehkan hal ini karena sebagian ulama membolehkan berutang ketika melakukan qurban.

Imam Ahmad bin Hambal mengatakan tentang orang yang tidak mampu aqiqah, ”Jika seseorang tidak mampu aqiqah, maka hendaknya ia mencari utangan dan berha… Read more
[12:57, 7/25/2017] +62 896-2554-3198: SIAPA SEBENARNYA YANG MENGAWALI PERPECAHAN ?

 

Telah berkata Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili -hafizhahullah- dalam daurahnya di Batu- Malang :

“Diantara hal yang selalu saya peringatkan adalah: Apa yang selalu dilariskan oleh syaithan-syaithan dari kalangan jin dan sebagian syaithan-syaithan dari kalangan manusia; untuk membuat perpecahan diantara para da’i,

Bagaimanakah (itu) ?

Datang sebagian da’i muda sambil mengatakan :

“Mereka itu orang-orang tua, sedangkan kita adalah para pemuda. Orang-orang tua itu metodenya kuno, dan sekarang sudah tidak sesuai dengan zaman ini, sebaiknya kita menempuh metode lain..”

“Kami adalah para pemuda, kami akan menyusul para da’i (tua) itu,”
Dan yang semakna dengan itu..

Sebagian ihkwah, mungkin dia mengenal manhaj salaf melalui perantaraan da’i yang tua ini, dan barangkali dialah yang membantu da’i muda ini sehingga dapat dapat diterima di sebuah Universitas.
Kemudian, tatkala telah lulus dari Universitas itu, dan telah menjadi Doktor, dia berkata:
“Mereka (da’i tua) itu laki-laki, kami pun laki-laki!”

Tidak lama kemudian, dia berkata : “Mereka telah termakan waktu.”
Tidak mengapa kita berijtihad, akan tetapi kita pun berhati-hati terhadap perpecahan. Kita berada pada satu kendaraan dan satu jalan, kita bermusyawarah dengan orang-orang tua yang telah mendahului kita didalam berdakwah ..
Kita bermusyawarah dengan mereka, memuliakan mereka, dan menghormati mereka.

Sungguh, termasuk diantara bentuk Allah memuliakan (seseorang); [mungkin yang tepat: termasuk di antara pengagungan terhadap Allah]; yaitu dengan cara: (orang itu) memuliakan seorang muslim yang rambutnya dipenuhi uban.. ”

ditulis oleh:
Ustadz Muhammad Iqbal Rahmatullah, Lc

LEAVE A REPLY